|
Kontroversi Ujian Nasional |
|
Ditulis Oleh Ifdil
|
|
Oleh : Prof. Dr. Azmi, M.A, Ph.D
Terjadinya kontoversi pada pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada dasarnya mencakup dua hal utama. Pertama dengan adanya siswa yang tidak lulus dan kedua mengenai keabsahan UN. Hanya saja pers dan beberapa tokoh politik terkadang membesar-besarkan masalah ketidaklulusan pelajar. Seolah dengan ketidaklulusan itu, masa depan mereka telah kelam. Maka jadilah suasana yang serba riuh oleh ketidaknyamanan, rasa frustasi pada orang-orang yang merasa tidak mampu, dan beberapa pernyataan melemahkan lainnya.
Tujuan dari UN adalah untuk menentukan siapa yang mencapai target tujuan pendidikan, yang kemudian dinamakan kompetensi. Ujian yang baik adalah ujian yang bisa membedakan kemampuan pelajar. Bagi pelajar yang gagal mencapai target, maka ia masuk ke golongan tidak lulus ujian. Adalah naif orang-orang yang berjuang agar semua ’harus’ lulus ujian. Bisa jadi semua peserta ujian akan lulus ujian, asal mencapai target batas. Yang menjadi masalah adalah kecurangan ujian, bukan adanya ujian atau batas kelulusan.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Ifdil
|
Dalam masa anak, banyak orang yang mempunyai pengaruh terhadap perkembangan dan pendidikan anak. Mereka mempunyai peranan yang besar dalam perwujudan potensi anak. Demikian pula cukup banyak orang yang dapat membantu menjadi guru anak berbakat di samping guru di sekolah. Mungkin lebih tepat jika kita menggunakan istilah fasilitator, karena bagi anak berbakat guru hendaknya lebih berfungsi sebagai fasilitator belejar dari pada sebagai instruktur semata – mata.
Istilah fasilitator menunjukan bahwa tanggung jawab akhir untuk belejar haruslah pada anak dalam menemukan dirnya. Namun, fasilitator membantu dan memudahkan anak dalam proses pengembangan dan perwujudan diri. Orang yang dapat menjadi fasilitator anak berbakat bukan hanya guru di sekolah. Mungkin, Einstein tidak pernah mewujudkan potensi dirinya sehingga mencapai keunggulan, andai kata ia tidak mempunyai seorang paman yang melibatkan dalam permainan matematika ketika Einstein masih anak.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Lima Arahan Pengadministrasian Instrumen (Limadmen) AUM |
|
Ditulis Oleh Ifdil
|
|
Sebelum melakukan pengadministrasian AUM konselor menerapkan “limadmen”, terhadap siswa atau responden pengisi AUM. Limadmen diperlukan untuk menginfromasikan kejelasan arah dan kegunaan AUM serta mencegah kejenuhan siswa dalam merespon setiap butir pada AUM. Lima Arahan Pengadministrasian Instrumen (limadmen) ini dijadikan sebagai SOP (Standar Operasional Prosedur) dasar dalam pengadministrasian AUM; yaitu mengkacup hal-hal sebagai berikut:
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Tingkat Kesahihan dan Keterandalan AUM |
|
Ditulis Oleh Ifdil
|
|
Kesahihan AUM diperiksa dengan mencocokkan jenis-jenis masalah yang dikemukakan oleh siswa tanpa mempergunakan AUM (yaitu dengan menuliskan masalah-masalah itu pada secarik kertas kosong) dengan masalah-masalah siswa yang sama yang dinyatakan melalui AUM. Prosedur menuliskan jenis-jenis masalah pada kertas kosong dilakukan sebelum siswa yang bersangkutan mengisi AUM . Dengan cara tersebut, indeks kecocokan yang diperoleh adalah antara 78 % s.d 86 %.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Jenis Alat Ungkap Masalah (AUM) dan Penyusunnya |
|
Ditulis Oleh Ifdil
|
|
Jenis Alat Ungkap Masalah (AUM) dan Penyusunnya Dari awal dikembangkanya, sejak tahun 1965 sampai 2009 telah tersusun 8 jenis format AUM, sebagai mana terdapat dalam Table 1 di bawah ini :
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 6 dari 86 |